Admin | 25 Mar 2025
Syekh Ibnu 'Ajibah al-Hasani radhiyallahu 'anhu berkata:
"Bagi para ahli hati dari kalangan 'arifin (orang-orang yang mengenal Allah), semua waktu bagi mereka adalah Lailatul Qadar, semua tempat bagi mereka adalah Arafah, dan semua hari bagi mereka adalah hari Jumat. Karena maksud dari mengagungkan waktu dan tempat adalah berdasarkan apa yang terjadi di dalamnya berupa pendekatan diri kepada Allah, penyaksian hakikat, dan keterbukaan mata hati. Maka bagi para 'arifin, semua waktu dan tempat adalah sama dalam makna ini."
Sebagaimana yang dikatakan oleh penyair mereka:
*"Kalau bukan karena keindahan-Mu hadir dalam diriku,
Niscaya aku tak akan rela sedetik pun dalam hidupku.
Apa itu Lailatul Qadar yang agung kedudukannya,
Jika bukan karena waktu-waktuku dihidupkan oleh kehadiran-Mu?
Sesungguhnya seorang pecinta, jika telah sempurna cintanya,
Tak lagi membutuhkan penentuan waktu."*
Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali rahimahullah berkata:
"Di bulan Ramadan, Lailatul Qadar dapat diketahui sejak hari pertama bulan itu. Jika hari pertama Ramadan jatuh pada:
1. Ahad (Minggu) atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29.
2. Senin, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21.
3. Selasa atau Jumat, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27.
4. Kamis, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25.
5. Sabtu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23."
Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili rahimahullah berkata:
"Sejak aku baligh, aku tidak pernah melewatkan Lailatul Qadar dengan kaidah ini."
(Demikian disebutkan dalam kitab I’anatut Thalibin ‘ala Halli Alfazhi Fathil Mu’in karya Sayyid Bakhri Syatha rahimahullah).
Tingkatan dalam Menghidupkan Lailatul Qadar
Menjaga malam Lailatul Qadar memiliki tiga tingkatan:
1. Tingkatan tertinggi: Menghidupkan seluruh malam dengan berbagai ibadah, seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak doa, terutama doa:
"Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni" (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku).
2. Tingkatan pertengahan: Menghidupkan sebagian besar malam dengan shalat, membaca Al-Qur’an, dan berbagai amal kebaikan.
3. Tingkatan terendah: Menjalankan shalat Isya berjamaah dan berniat untuk melaksanakan shalat Subuh berjamaah.
Imam Asy-Syafi'i radhiyallahu ‘anhu berkata:
"Siapa yang menghadiri shalat Isya dan Subuh berjamaah pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mendapatkan bagian dari keutamaannya."
Disunnahkan juga bagi seorang Muslim untuk bersungguh-sungguh beribadah di siang harinya sebagaimana ia bersungguh-sungguh di malam harinya.
(Demikian disebutkan dalam Hasyiyah Al-Bajuri).
Mungkin malam ini adalah Lailatul Qadar
Jangan lupa untuk berdoa yang terbaik bagi kita semua.
"Kami memohon kepada Allah agar mengaruniakan kepada kita semua ampunan, keselamatan, taufik, serta kemudahan dalam mengingat, bersyukur, dan beribadah kepada-Nya. Semoga Dia menganugerahkan kepada kita hakikat penghambaan yang sejati serta membebaskan kita dan orang tua kita dari siksa neraka, demi kemuliaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wasallam."
Saudara-saudaraku!
"Jangan hanya mencari Lailatul Qadar di antara tiang-tiang masjid!
Carilah ia dalam ridha ayah dan ibu, dalam kasih sayang terhadap saudara, dalam silaturahmi, memberi makan orang miskin, memberi pakaian kepada yang membutuhkan, menenangkan orang yang takut, menolong orang yang terzalimi, menyantuni anak yatim, membantu orang sakit, dan menjadi sebab kesembuhannya.
Carilah Lailatul Qadar dalam ridha Allah, dalam meninggalkan dosa, dan dalam mengubah diri menjadi jiwa yang tenang."
Salah satu mutiara hikmah dari Imam Al-Ghazali rahimahullah:
"Dzikir kepada Allah bukan sekadar mengingat yang jauh!
Melainkan kehadiranmu dari kelalaian
Dan kesadaranmu dari ketidaksadaran."